Minggu, 22 Januari 2012

Teks Drama Bahasa Indonesia. "Persahabatan Dapat Merubah Segalanya"


 "Persahabatan Merubah Segalanya"
Inilah Para Pemeran Drama Kali Ini..
1.       Gilang Febriyanto sebagai Marcel (pemeran utama) yang pintar, tapi.. Selalu bersikap sinis dan tertutup
2.      Eldwin Ilham Murpratomo sebagai Leo (sahabat pemeran utama) yang kece tapi dia jarang berfikir sebelum bertindak
3.      Neddyana Pahlawaty sebagai Marsha (sahabat pemeran utama) yang tidak pernah mau meminta ataupun menerima bantuan orang lain
4.     Adisty Shafira. F sebagai Clarissa (sahabat pemeran utama) yang tidak pernah mau pusing memikirkan orang lain
5.      Shofura Fitria. K sebagai Monica (sahabat pemeran utama) yang tidak pernah peduli pendapat orang lain
6.     Yuni Sri Rahayu sebagai Helen (sahabat pemeran utama) yang pemalu dan tidak pernah bisa menolak pemberian orang lain
7.     Reinaldo Oktavian sebagai Pak.Ray (pak guru) yang sangat bijaksana




Selamat Menyaksikan…


 Persahabatan Dapat Merubah Segalanya

Marcel, Leo, Marsya, Clarissa, Monica, Helen, adalah 6 siswa yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Mereka dipersatukan di sekolah yang sama. Banyak orang berfikiran jika mereka disatukan, maka tidak dapat kompak satu sama yang lainnya. Tapi disini, semua berbeda..
Marcel, si pintar yang selalu bersikap sinis. Leo, anak yang jarang berfikir sebelum bertindak. Marsha, orang yang tidak pernah mau meminta atau menerima bantuan orang lain. Clarissa, orang yang tidak pernah mau pusing memikirkan orang lain. Monica, orang yang tidak pernah peduli dengan pendapat orang lain. Dan Helen, cewek pemalu yang tidak pernah bisa menolak permintaan orang lain.
Kini mereka harus menjalankan tugas dari Mr. Ray yang mengharuskan mereka berada di suatu kelompok. Tugas yang diberikan adalah mengurus mading yang ada di sekolah mereka..
                Apakah mereka akan menjadi kompak satu sama lain? Atau justru kebaliakannya? Berikut ini adalah kisah selanjutnya….
                Sepulang sekolah…
Pak Ray : “Leo, sudah berapa kali bapak bilang pada kamu. Berpikirlah sebelum kamu melakukan sesuatu. Pikirkan apa resiko yang akan kamu dapatkan nantinya.”
Leo : “Iya pak saya tahu. Tapi saya tidak terima kalau ada orang yang mengejek saya.”
Pak Ray : “Tapi tidak dengan kekerasan. Apa kamu pikir dengan memukul orang tersebut akan menyelesaikan masalah?”
Leo : “Tidak pak.”
Pak Ray : “Yasudah, sebagai hukumannya saya mau kamu masuk untuk mengurus mading sekolah.”
Leo : “Bersama siapa pak?”
(tok.. tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu)
Pak Ray : “Silahkan masuk.”
Marsha : “Permisi, bapak memanggil saya dan yang lain?” (sambil menoleh ke arah teman-temannya)
Pak Ray : “iya.”
Monisa : “Ada apa ya pak?”
Clarissa : “Apa kita ngelakuin kesalahan.”
Helen : “Atau ada sesuatu yang penting  pak?”
Marcel : “Yang pasti bukan karna kita bermasalah. Seperti dia.” (sambil memegang helmnya, dia menunjuk ke arah Leo)
Leo : “Maksud kamu apa?”
Pak Ray : “Sudah sudah. Saya memanggil kalian semua karna saya ingin meminta kalian untuk mengurus mading sekolah kita.”
Marsha : “Kenapa mesti kita pak?”
Pak Ray : “Seperti yang kalian ketahui, mading sekolah kita sekarang sudah tidak begitu aktif lagi, semenjak kakak-kakak kelas kalian yang dulu mengurus mading fokus untuk menghadapi ujian.”
Marcel : “Lalu?”
Clarissa : “Urusannya sama kami apa pak?”
Monica : “Jangan bilang kita akan jadi satu kelompok untuk mengurus mading sekolah.”
Pak Ray : “Kamu benar Monic, sekarang hanya ada Helen yang masih aktif mengurus mading sekolah. Jadi saya minta kepada kalian untuk bekerja sama membangkitkan kembali mading sekolah.”
Leo : “Kalau saya tidak mau bagaimana pak?”
Pak Ray : “Kamu tidak bisa menolak Leo, kamu sedang dalam masa hukuman.”
Marcel : “Tapi ini sama saja kita membantu Leo menjalani hukumannya.”
Marsha : “Benar pak, kita kan tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Leo.”
Clarissa : “Iya pak, ini gak adil. Leo yang berbuat kesalahan tapi kita yang kena.”
Helen : “Bukan itu maksud Pak Ray teman-teman. Pak Ray hanya ingin kita membuat inovasi baru untuk mading sekolah kita.”
Monica : “Tapi ini semua berawal dari masalah Leo.”
Leo : “Kenapa semua pada nyalahin aku sih, aku juga gak mau kaya gini. Aku gak tau apa-apa soal ini.”
Pak Ray : “Sebelumnya bapak minta maaf, mungkin kalian tidak bisa menerima keputusan saya. Tapi untuk kali ini saya mohon pada kalian, tolong bantu saya dan Helen mengurus mading sekolah.”
Marcel : “Yasudahlah, saya setuju pak.”
Marsha : “Baik pak, saya mau membantu mengurus mading sekolah.”
Monica : “Saya juga deh pak.”
Clarissa : “Saya ikut yang lain, karna yang lain setuju saya juga setuju.”
Helen : “Makasih yaa teman-teman. Semoga kita bisa bekerja sama.”
Pak Ray : “Baik, terima kasih anak-anak atas pengertian kalian. Bagaimana dengan kamu Leo.”
Leo : “Yaa saya bisa apa pak? Memangnya saya bisa nolak? Jadi saya setuju aja.”
(Mendengan pernyataan Leo semua tertawa)
*Keesokan harinya, di dalam kelas*
Helen : “Teman-teman tadi Pak Ray nitipin pesan sama aku. Beliau bilang kita harus mengadakan rapat untuk membahas tema apa untuk mading sekolah kita minggu ini.”
Leo : “Okesip.”
Monic : “Iya aku bisa kok.”
Marsha : “Oke, tapi maaf mungkin aku datang telat.”
Clarissa : “Okedeh, emang menurut kalian tema yang bagus apa?”
Helen : “Nanti kita omongin. Gimana Cel? Kamu bisa?”
Marcel : “Bisa, tapi mungkin gak bisa terlalu lama.”
Helen : “Iya gak apa-apa kok.”
(Bel pulang berbunyi, satu persatu dari mereka datang ke perpustakaan)
Leo : “Kamu lagi apa Helen?”
Helen : “Hah? Gak kok, gak lagi ngapa-ngapain.”
Leo : “Masa sih? Tadi aku lihat kamu lagi buat apa gitu?”
Helen : “Kamu mau tau aja sih”
Leo : “Emang gak boleh ya?”
Helen : “Hmm… boleh kok, tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya, Cuma kamu yang aku kasih tau.”
Leo: “Ohya? Cuma aku? Berarti aku special buat kamu.”
Helen : “Apaansih? Kepedean banget”
Leo : “Aku gak kepedean. Buktinya Cuma aku yang kamu kasih tau. Namanya apa coba kalo bukan special.”
Helen : “Hah, nggak kok nggak” (panik)
Clarissa : “Ehem… Ehem…”
Monica : “Hayo, kalian lagi apa?”
Leo : “Paan sih.. Apaan?”
Marcel : “Udah, ayo mulai rapat. Tapi..” (nengok kanan-kiri)
Clarissa : “Tapi apaan lagi sih? Udah cepet, nunggu apalagi sih?”
Monica : “Pasti nungguin Marsha. Udahlah mulai aja, lagian dia kan tadi udah bilang mau datang telat.”
Leo : “Iya udah, mulai aja rapatnya.”
Marcel : “Eh, hm... Yaudah deh..”
Helen : “Yaudah kita mulai aja yaa.”
(Tiba-tiba Marsha datang)
Marsha : “Maaf teman-teman aku telat, udah mulai dari tadi yaa?”
Clarissa : “Belum sama sekali malah, kita itu nungguin kamu.”
Marsha : “Maaf..”
Monica : “Yaudahlah mending kamu duduk, supaya bisa cepet dimulai.”
Helen : “Yaudah rapat kita mulai. Gini teman-teman, untuk edisi mading minggu ini menurut kalian tema apa yang bagus untuk kita bahas?”
Marcel : “Menurut aku, karena minggu ini ada hari ibu, gimana kalau kita ngebahas tentang ibu, wanita atau apapun yang masih berhubungan dengan hari ibu.”
Marsha : “Aku setuju.”
Clarissa : “Aku juga, temanya cocok banget.”
Monica : “Yaa, aku ikut aja. Tapi temanya emang bagus kok.
Helen : “Oke, kita pake tema itu. Gimana menurut kamu Leo?”
Leo : “Aku gak bisa apa-apa. Jadi aku nurut aja sama kalian. Mau nolak pun juga percuma.”
Marcel : “Yaudah kita semua setuju untuk edisi mading seklah minggu ini kita ngebahas tema tentang ibu atau wanita.”
Marsha : “Ada yang udah punya karya buat ditampilin?”
Monica : “Aku belum ada.”
Clarissa : “Aku juga, tapi menurut aku puisi bagus buat ditampilin.”
Leo : “Helen, bukannya kamu jago nulis puisi. Gak ada apa satu puisi yang pas buat tema ini.”
Marcel : “Aku yakin pasti ada.”
Helen : “Ada sih, tapi gak bagus-bagus banget.”
Marsha : “Coba kamu baca deh puisinya..”
(Helen membacakan karya puisinya)
Ketika wanita menangis,
Itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya,
Melainkan justru dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.
Ketika wanita menangis,
Itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya,
Melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya.
Ketika wanita menangis,
Itu bukan karena ia ingin terlihat lemah,
Melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat.


Monica : “Menurut aku bagus, banget malah.”
Marcel : “Cukup bagus kok buat dipajang di mading.”
Clarissa : “Ia benar cel, aku setuju banget.”
Helen : “Kalian terlalu berlebihan, itu gak sebagus apa yang kalian bilang.”
Marsha : “Ini beneran bagus.”
Helen : “Yaudahlah terserah kalian aja.”
Marcel : “Jadi kita semua setuju, puisi Helen yang akan kita pajang di mading.”
Leo : “Aku yang nempel yaa.”
Clarissa : “Yaa emang Cuma itu yang kamu bisa.”
Marcel : “Yaudah, rapatnya udah selesai kan? Aku buru-buru nih.. Duluan ya..”
Marsha : “Oke, semuanya boleh pulang, makasih buat hari ini. Sampai ketemu besok yaa.”
Yang lainnya : “Iya..”
(beberapa menit setelah Marcel pergi, HP Marsya Berbunyi)
Marsha : “Iya halo.. Ini dari siapa ya? Apa???” (hp marsha terjatuh karena sangat shock. Kemudian ia menangis)
Leo : “Kapu kenapa sha?”
Clarissa : “Apa yang terjadi??”
Monica : “Siapa yang menelfon sha?”
Helen : “Iya. Ada apa sih??”
Marsha : “Mar… Marcel.. Marcel kecelakaan. Dia tidak sadarkan diri..” (berlari meninggalkan kelas)
Helen : “Marsha tunggu! Duh..” (memegang kepala)
Leo : “Kamu ngak apa-apa len?”
Helen : …. (pingsan)
Leo : “Helen!”
Monica : “Ayo bawa dia ke uks.”
Clarissa : “Ayo..”
*Keesokan harinya*
 (sebelum bel mausk berbunyi. Leo menempel puisi karya Helen di mading sekolah. Dan mendapatkan tanggapan positif dari seluruh siswa)
Pak Ray : “Anak-anak tolong ikut saya ke kelas ya.”
Leo : “Baik pak” (semua anak mengangguk dan mengikuti Pak Ray)
Marsha : “Ada apa pak?”
Pak Ray : “Begini, mengenai mading sekolah edisi minggu ini, bapak sangat bangga pada kalian semua Ternya kalian bisa bekerjasama dengan baik sekali.Hasilnya sangat memuaskan.”
Clarissa : “Terima kasih pak, ini semua kan juga berkat bapak yang sudah menyatukan kami.”
Monica : “Saya baru sadar ternya kerja sama itu gak seburuk yang saya kira.”
Pak Ray : “Iya sama-sama. Oiya, kemaren bapak dengar Marcel kecelakaan sha? Dan Helen juga pingsan?”
Marsha : “Iya pak, kemarin saya langsung ke rumah sakit. Ketika saya sampai hanya kepalanya yang terbentur sehingga ia pingsan. Dan luka-luka ringan. Hari ini dia sudah bisa masuk sekolah. Mungkin sebentar lagi dia datang. Kalau Helen, Saya ngak tahu pak.”
Leo : “Helen kemarin memang pingsan.”
Pak Ray : “Kamu tidak apa-apa Helen?”
Helen : “Tidak pak. Kemarin saya hanya sedikit kecapekan. Oiya pak. Saya sudah memutuskan untuk keluar sebagai pengurus Mading sekolah ini.”
Leo : “Hah? Kenapa?” (tiba-tiba marcel masuk)
Marcel : “Pagi.. Lho kenapa semuanya terlihat shock?”
Marsha : “Syukurlah kamu udah bisa masuk sekolah lagi. Helen.. Dia mau keluar dari pengurus mading.”
Marcel : “Iya.. Tapi kenapa harus mendadak gini??”
Clarissa : “Ada apa memangnya? Kita berbuat salah sama kamu?”
Monica : “Atau ada kelakuan atau perkataan kita yang menyinggung kamu?”
Marcel : “Yaudah, kita minta maaf kalau kita ada salah. Tapi tolong jangan keluar dari mading sekolah.”
Pak Ray : “Iya benar, ada apa dengan kamu? Apa yang terjadi?”
Helen : “Maaf pak, tidak ada apa-apa kok. Ini murni keinginan saya. Maaf juga teman-teman.Aku akan tetap keluar dari mading sekolah.”
Pak Ray : “Baiklah, itu sudah keputusan kamu, saya dan yang lain tidak bisa memaksa. Terima kasih atas kerja sama kamu.”
Marcel : “Sama-sama pak.”
Leo : “Tapi pak.”
Marsha : “Sudah Leo, kita gak bisa maksa.”
Clarissa : “Yaudahlah.”
Marcel : “Makasih untuk selama ini.”
Monica : “Maaf kalau kita ada salah.”
                (yang lainnya berjalan meningggalkan Leo dan Helen)
Leo : “Sebenernya apa masalahnya?”
Helen: “Gak ada masalah apa-apa.”
Leo : “Lalu kenapa kamu mengundurkan diri tiba-tiba?”
Helen : “Kamu gak perlu tau. Itu urusan ku.”
Leo : “Itu urusan ku juga, kamu sahabat aku.”
Helen : “Sejak kapan kamu jadi sahabat aku? Aku gak pernah minta kamu untuk jadi sahabat aku.”
Leo : “Tapi aku menganggap kamu dan yang lain itu sahabat aku, aku dan yang lain gak mau kehilangan kamu. Kamu berarti banget buat kita.”
Helen  : “Justru itu, aku gak mau kalian ngerasa kehilangan saat aku pergi nanti. Aku gak mau rasa sayang kalian ke aku terlalu dalam.Yang nantinya akan bikin kalian gak bisa nerima kepergian aku.”
Leo : “Maksud kamu apa? Aku semakin gak ngerti.Kepergian?Maksudnya?Kamu mau mati?”
Helen : “Iya, kamu bener.”
Leo : “Hah? Emang kamu sakit apa?”
Helen : “ Tumor otak.” (pergi meninggalkan Leo yang masih berdiri terpaku)
Leo : “Dia sakit tumor otak, tapi sikap nya seperti gak lagi sakit apa-apa. Aneh. Gak takut mati apa.”
Clarissa : “Kenapa? Kok kamu ngomong sendiri?”
Marsha : “Siapa yag sakit tumor otak?”
Marcel : “Terus siapa yang mau mati?”
Leo : “Helen..”
Marcel : “Jangan bercanda dong. Gak lucu tau.”
Leo : “Aku gak bercanda, aku serius. Helen sendiri yang bilang sama aku kalau dia sakit tumor otak.”
(Pak Ray datang tiba-tiba)
Pak Ray : “Kalian sedang membicarakan apa anak-anak?”
Marsha : “Leo pak, dia ngada-ngada. Dia bilang ke kita semua kalau Helen sakit tumor otak.”
Clarissa : “Itu bohong kan pak?
Pak Ray : “Itu benar, Leo gak bohong.”
Leo : “Tuh kan bener.”
Monica : “Maksud bapak?”
Marcel : “Jangan bilang Helen beneran sakit tumor otak?”
Pak Ray : “Helen memang menderita tumor otak,sudah sejak 2 tahun yang lalu. Ayahnya sudah memaksanya untuk melakukan operasi. Tapi dia menolak.”
Marsha : “Kenapa dia nolak pak?”
Leo : “Udah bosen hidup kali pak.”
Monica: “Hush.. Ngasal banget sih ngomongnya.”
Clarissa: “Tau nih, lagi serius juga. Malah bercanda.”
Marcel : “Memangnya kenapa pak?”
Pak Ray : “Helen merasa sudah tidak ada alasan untuk dia bertahan hidup semenjak ibunya meninggal.”
Marsha: “Tapi kan masih ada ayahnya pak.”
Leo : “Masa dia gak mau bertahan hidup demi ayahnya sih.”
Pak Ray : “Bapak juga tidak tahu. Ini adalah salah satu alasan kenapa bapak meminta kalian berkelompok untuk mengurus mading sekolah.”
Monica : “Masih gak ngerti pak.”
Leo : “Sama.” (sambil menggaruk kepalanya)
Clarissa : “Jadi bapak meminta kita berkelompok untuk mengurus mading sekolah, supaya Helen bisa jadiin kita alasan untuk hidup.”
Marcel : “Dan supaya Helen mau dioperasi?”
Marsha : “Tapi kenapa sekarang Helen malah ngejauh dari kita pak?”
Leo : “Tadi dia bilang, dia gak mau kita ngerasa kehilangan kalo nanti dia pergi.”
Pak Ray : “Kau benar Leo.”
Monica : “Jadi kita sekarang harus ngelakuin apa?”
Clarissa : “Kita bujuk Helen supaya dia mau tetep hidup demi kita, demi ayahnya, dan demi semua orang yang sayang sama dia.”
Marsha : “Oke, besok kita ngomong sama dia.”
Pak Ray : “Yaudah, lebih baik kalian pulang sekarang.”
Anak-anak : “Iya pak” (secara serempak)
*Keesokan harinya*
Marsha : “Helen..”
Helen: “Kenapa?”
Clarissa : “Tentang penyakit kamu.”
Helen : “Kalian udah tau ya? Pasti dari Leo.” (melirik  ke arah Leo)
Leo : “Hehe, maaf len. Kamu kan gak ngelarang akau buat ngasih tau ke yang lain.”
Monica : “Ini bukan waktunya untuk bercanda leo.”
Marcel : “Kenapa sih len kamu gak mau berbagi rasa sakit kamu ke kita?”
Marsha : “Kita itu sahabat kamu dan kamu sahabat kita len.”
Helen : “Kalian gak ngerti. Aku ngelakuin ini karna aku gak mau ngeliat kalian sakit.”
Clarissa : “Tapi kita semua ada disini buat kamu cel.”
Leo : “Kita mohon. Kamu mau ngelakuin operasi itu.Demi ayah kamu, demi kita, demi semua orang yang sayang sama kamu.”
Monica : “Kita mohon len, kita semua sayang sama kamu. Kita gak mau kehilangan sahabat kaya kamu.”
Marsha : “Oke, kalau kamu ngakmau juga. Kita bakalan nyanyiin lagu buat kamu, supaya kamu mau operasi.” (mulai bernyanyi dan memainkan gitarnya)
 (tiba-tiba.. Pak Ray datang dan mendekat ke anak-anak)
Pak Ray : “Kamu denger sendiri kan len, banyak orang yang sayang sama kamu.”
Helen : “Iya pak, saya baru sadar.”
Pak Ray : “Jadi gimana? Mau jadiin mereka alasan untuk kamu hidup?
Helen : “Iya, saya mau.”
Leo : “Makasih ya len.”
Marsha : “Kemu gak akan nyesel kok jadiin kita alasan kamu untuk hidup.”
Clarissa : “Aku yakin kamu pasti bisa kok hidup lebih lama lagi demi kita”
Marcel : “Kita akan selalu ada untuk kamu.”
Monica : “Sekali lagi makasih banget yaa cel.”
Helen : “Seharusnya aku yang berterima kasih sama kalian. Aku seneng banget bisa kenal sama kalian dan bisa jadi sahabat kalian.”
Leo : “Yaiyalah, kalo kamu gak mau operasi dan nanti kamu meninggal, kamu gak akan pernah bisa ketemu sama cowok sekece aku disana,”
Marsha : “Capek deh.”
Clarissa : “Kamu itu, pengen banget dibilang kece.”
Pak Ray : “Leo.. Leo..ckckck”
Seluruhnya: “Hahahahah…”

Persahabatan yang dapat mengubah segalanya. Memang nanti akan ada saatnya dimana kita akan merasa kehilangan seseorang yang kita sayang. Tapi yakin bahwa bertahan demi orang yang kita sayang dan menyayangi kita itu jauh lebih baik daripada menyerah dengan keadaan.

SELESAI

6 komentar: